Label
› Banda Aceh
› Karomah
› MIS Lamgugob Banda Aceh
› Pasir
› Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga: Perjalanan Spiritual dari Perampok menjadi Ulama dengan Karomah Ajaib mengubah pasir jadi beras
Sunan Kalijaga: Perjalanan Spiritual dari Perampok menjadi Ulama dengan Karomah Ajaib mengubah pasir jadi beras
HUMAS
Jumat, 13 Maret 2026 | Maret 13, 2026 WIB
Last Updated
2026-03-15T09:00:02Z
Oleh: Fadhillah, S. Pd
Guru PAI MIS Lamgugob Kota Banda Aceh
Guru PAI MIS Lamgugob Kota Banda Aceh
Raden Sahid atau Sunan Kalijaga adalah putra Tumenggung Wilatikta. Kakeknya bernama Aria Teja atau Abdurrahman, seorang keturunan Arab yang bersamb silsilahnya dengan Saydina Abbas bin Abdul Mutalib, paman Rasulullah Saw.
Ra Sahid dididik dalam lingkungan keluarga ibunya, Putri Nawangarum yang berasal keluarga Bupati Tuban. Pemahamannya tentang sastra Jawa membuatnya mahira kelak meyampaikan dakwah lewat seni budaya.
Di usia remaja, Raden Sahid tumbuh menjadi ilmuan silat, dan remaja yang kontroversi di mata orang Tuban. Sisi lain Raden Sahid, ia banyak bergaul dengan rakyat jelata meski ia seorang putra bangsawan.
Suatu hari, ia menyaksikan korupsi para pejabat pemerintahan yang memungut upeti kepada rakyat jelata. Melihat kondisi ini, Raden Sahid memperhatikan para pejabat yang sewenang-wenang atas kekuasaannya hingga mengambil paksa sebahagian harta mereka untuk diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan.
Apa yang dilakukan Raden Sahid diketahui ayahnya dan diusir agar hengkang dari rumah dan tinggal di hutan Jati Sari. Orang-orang di sekitarny mengenalnya dengan julukan lokajaya.
Perubahan drastis dalam pribadinya terjadi ketika ia merampas tongkat Sunan Bonang yang berdaun emas. Sunan Bonang menyayangkan sikap baiknya yang memberi rakyat jelata dari hasil pengambilan paksa harta orang lain. Kemudian Sunan Bonang menasehatinya "bagai berwudhu dengan air kencing" tindakannya yang berniat baik tetapi dilakukan dengan perbuatan kotor. Sunan Bonang pun menunjukkan kemampuannya mengubah buah aren menjadi emas. Peristiwa ini membuat Raden Sahid menyesali perbuatannya.
Akhirnya Sunan Kalijaga dibimbing oleh Sunan Bonang untuk menjadi muridnya. Inilah yang menjadi cikal bakal perubahan nama Raden Said menjadi Sunan Kalijaga hingga menjadi penerus dakwahnya, hingga kemudian dianggkat menjadi salah satu Walisongo.
Nama Kalijaga dikaitkan dengan cerita perjalanannya bersama Syekh Siti Jenar ke beberapa tempat di Jawa untuk membersihkan tempat-tempat angker yang menjadi tempat pemujaan Dewa.
Mengubah Beras Jadi Pasir
Pada saat Sunan Kalijaga tiba di sebuah dusun. Sunan Kalijaga merasa sedih karena rakyat di dusun itu banyak yang kelaparan, sementara kepala dusunnya hidup dalam kemewahan dari hasil jerih payah rakyatnya.
Kemudian Sunan Kalijaga melihat seorang miskin datang ke kepala dusun.Dia minta dipinjami beras seliter untuk makan anaknya yang belum makan. Namun semuanya tidak didengar kepala dusun, malahan dia berkata, bahwa karung-karung miliknya itu berisi pasir, bukan beras.
Mendengar kebohongan itu, Sunan Kalijaga lalu berdoa kepada Allah SWT agar mengubah semua beras dalam karung itu menjadi pasir. Ternyata, doa itu dikabulkan Allah SWT. Kepala dusun itu terperanjat kaget, “Aku rugi gara-gara kamu, tahu! Beras-berasku berubah semua menjadi pasir,” bentak kepala dusun dengan penuh kekesalan. “Lho, bukannya tadi kata Juragan semua karung itu memang isinya pasir, bukan beras?” kata orang miskin tadi.
Penduduk pun berdatangan melihat kejadian itu. Kepala dusun itu segera minta tolong kepada Sunan Kalijaga. “Kanjeng Sunan tolonglah saya. Kembalikan beras-beras saya yang akan saya jual ini.…” pinta kepala dusun setengah memelas.
“Lho, bukannya engkau tadi mengatakan isi karung ini memang pasir?” Sunan Kalijaga menyindir kepala dusun yang kikir tersebut. “Ampun Kanjeng Sunan. Tadi karung-karung ini memang berisi beras. Saya tadi hanya berbohong kepada orang miskin itu agar tidak meminjam beras yang saya miliki,” ujar kepala dusun.
Kepala dusun menyesal dan berjanji akan membagikan beras miliknya pada penduduk kampung. Kepala dusun pun ingin Sunan Kalijaga berkenan mengangkatnya menjadi muridnya.
Kemudian Sunan Kalijaga pun berdoa semoga Allah SWT mengampuninya dan mengembalikan pasir itu menjadi beras kembali. Maka pasir yang ada dalam karung-karung itu kembali menjadi beras. Allah SWT mengabulkan doa Sunan Kalijaga. Kemudian kepala dusun itu membagikan berasnya kepada penduduk kampung, termasuk kepada orang miskin tadi.
- Banda Aceh, 3 Maret 2026 -
